Selasa, 08 Januari 2013

Ikan Tuna dan Manfaatnya

Ikan tuna adalah kelompok ikan laut dari keluarga Scombridae, khususnya dari genus Thunnus. Tuna merupakan ikan berukuran paling besar di antara kelompok ikan mackerel, yang keseluruhannya terdapat kurang lebih 48 species berbeda. Beberapa jenis ikan tuna yang terkenal adalah tuna sirip biru (bluefin tuna), tuna sirip kuning (yellowfin tuna), tuna sirip hitam (blackfin tuna), tuna ramping (slender tuna), tuna peluru (bullet tuna), dan tongkol (longtail tuna).

Ikan Tuna adalah ikan yang gesit dan mampu berenang dengan cepat (beberapa spesies tuna dapat berenang dengan kecepatan 70 km / jam). Tidak seperti ikan pada umumnya yang mempunyai daging berwarna putih, jaringan otot dan daging ikan tuna berwarna merah muda sampai dengan merah tua. Warna merah tersebut timbul dari adanya mioglobin, suatu molekul berikatan oksigen, di mana tuna memiliki kanduingan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ikan-ikan jenis lainnya. Beberapa spesies ikan tuna berukuran besar, seperti bluefin tuna (tuna sirip biru), menunjukkan adaptasi sifat berdarah panas. Tuna sirip biru dapat meningkatkan temperatur tubuhnya lebih tinggi daripada suhu air, sebagai akibat aktivitas otot-otot tubuhnya. Kondisi ini memungkinkan ikan tuna sirip biru dapat bertahan hidup di perairan bersuhu dingin dan mampu mendiami habitat yang lebih luas di laut daripada jenis ikan lainnya.

Ikan tuna memiliki kemampuan untuk mempertahankan suhu tubuhnya di atas suhu air laut di sekelilingnya. Sebagai contoh, tuna sirip biru dapat mempertahankan suhu tubuh antara 24 - 35 °C, di air dingin bersuhu 6 °C. Akan tetapi, tidak sama dengan hewan endotermik tertentu, misalnya mamalia atau burung, ikan tuna menjaga suhu tubuhnya tidak dalam kisaran suhu yang relatif sempit.

Ikan tuna mencapai kondisi endothermy dengan cara mempertahankan panas tubuh yang dihasilkan melalui metabolisme normal. Retia mirabilia, suatu jalinan pembuluh darah vena dan arteri di bagian tepi tubuh, mentransfer panas dari darah di vena ke darah di arteri melalui sistem pertukaran aliran. Hal ini akan mengurangi penurunan suhu pada permukaan tubuh dan mempertahankan otot tetap hangat. Kondisi ini mendukung kemampuan tuna berenang dengan kecepatan tetap tinggi melalui pengurangan penggunaan energi.

Bagi hewan perenang cepat seperti lumba-lumba dan ikan tuna, kavitasi dapat merupakan gangguan, karena akan membatasi kecepatan renangnya secara maksimal. Bahkan meskipun lumba-lumba mempunyai tenaga untuk berenang lebih cepat, hewan ini mungkin harus membatasi kecepatan renangnya, karena menyebabkan pecahnya gelembung kavitasi pada daerah ekor, yang menimbulkan rasa sakit bagi lumba-lumba. Kavitasi juga dapat memperlambat kecepatan renang ikan tuna, tetapi untuk sebab yang agak berbeda. Tidak seperti halnya lumba-lumba, ikan tuna tidak merasakan gelembung kavitasi, karena mereka memiliki sirip berduri tanpa saraf tepi. Meskipun demikian, ikan tuna tidak dapat berenang lebih cepat karena gelembung kavitasi menciptakan lapisan uap di sekitar sirip yang membatasi kecepatan berenang.

Tuna termasuk ikan yang memiliki nilai ekonomis penting. Yayasan Kelestarian Seafood Internasional (ISSF) telah mengeluarkan laporan ilmiah secara rinci tentang keadaan stok tuna dunia pada tahun 2009. Berdasarkan laporan tersebut diketahui bahwa ikan tuna menyebar secara luas tetapi tidak terlalu melimpah, di seluruh lautan di dunia. Tuna umumnya menyebar di perairan tropis dan subtropis di antara 45 derajat lintang utara dan lintang selatan khatulistiwa.

Kaya Omega-3

Nilai gizi tuna yang sangat baik, kandungan omega-3-nya membuat tuna mempunyai seribu satu manfaat bagi kesehatan tubuh. Namun, hal itu harus didukung dengan pemilihan, pengolahan, dan penyimpanan tuna yang baik. Ikan tuna yang masih segar sebaiknya disimpan di lemari es (jika akan segera digunakan) atau dibekukan (jika ingin disimpan untuk beberapa lama). Dilihat dari komposisi gizinya, tuna mempunyai nilai gizi yang sangat luar biasa. Kadar protein pada ikan tuna hampir dua kali kadar protein pada telur yang selama ini dikenal sebagai sumber protein utama. Kadar protein per 100 gram ikan tuna dan telur masing-masing 22 g dan 13 g.

Sebagai salah satu komoditas laut, ikan tuna juga kaya akan asam lemak omega-3. Kandungan omega-3 pada ikan air laut, seperti ikan tuna, adalah 28 kali lebih banyak daripada ikan air tawar. Perbandingan kadar omega-3 antara ikan tuna dengan ikan jenis lainnya dapat dilihat pada Tabel 2. Omega-3 dapat menurunkan kadar kolesterol darah dan menghambat proses terjadinya aterosklerosis (penyumbatan pembuluh darah). Konsumsi ikan 30 gram sehari dapat mereduksi risiko kematian akibat penyakit jantung hingga 50 persen. Asam lemak omega-3 juga mempunyai peran penting untuk proses tumbuh kembang sel-sel saraf, termasuk sel otak, sehingga dapat meningkatkan kecerdasan, terutama pada anak-anak yang sedang mengalami proses tumbuh kembang.

Sumber Mineral

Ikan tuna juga kaya berbagai mineral penting yang esensial bagi tubuh. Kandungan iodium pada ikan tuna mencapai 28 kali kandungan iodium pada ikan air tawar. Iodium sangat berperan penting untuk mencegah penyakit gondok dan meningkatkan kecerdasan anak. Selain itu, ikan tuna juga kaya akan selenium. Konsumsi 100 gram ikan tuna cukup untuk memenuhi 52,9 persen kebutuhan tubuh akan selenium. Selenium mempunyai peran penting di dalam tubuh, yaitu mengaktifkan enzim antioksidan glutathione peroxidase. Enzim ini dapat melindungi tubuh dari serangan radikal bebas penyebab berbagai jenis kanker.

Dilihat dari perbandingan kalium dan natrium, ikan tuna baik untuk penderita jantung. Makanan ini tergolong makanan sehat untuk jantung dan pembuluh darah bila mengandung rasio kalium dan natrium minimal 5 berbanding 1. Perbandingan kalium dan natrium mencapai 6,4:1 pada tuna sirip biru; 11:1 pada tuna jenis skipjack; dan 12:1 pada tuna yellow fin. Kalium diketahui bermanfaat untuk mengendalikan tekanan darah, terapi darah tinggi, serta membersihkan karbondioksida di dalam darah. Kalium juga bermanfaat untuk memicu kerja otot dan simpul saraf: Kalium yang tinggi akan memperlancar pengiriman oksigen ke otak dan membantu memperlancar keseimbangan cairan tubuh.

Sumber Vitamin

Kandungan vitamin pada ikan tuna, terutama jenis sirip biru sangat tinggi, yaitu mencapai 2,183 IU. Konsumsi 100 gram ikan tuna sirip biru cukup untuk memenuhi 43,6 persen kebutuhan tubuh akan vitamin A setiap hari. Vitamin A sangat baik untuk pemeliharaan sel epitel, peningkatan imunitas tubuh, pertumbuhan, penglihatan, dan reproduksi.

Ikan tuna juga merupakan sumber yang baik untuk vitamin B6 dan asam folat. World's Health Rating dari The George Mateljan Foundation menggolongkan kandungan vitamin B6 tuna ke dalam kategori sangat bagus karena mempunyai nutrient density yang tinggi, yaitu mencapai 6,7 (batas kategori sangat bagus adalah 3,4-6,7). Vitamin B6 bersama asam folat dapat menurunkan level homosistein. Homosistein merupakan komponen produk antara yang diproduksi selama proses metilasi. Homostein sangat berbahaya bagi pembuluh arteri dan sangat potensial untuk menyebabkan terjadinya penyakit jantung. Meskipun ikan tuna mengandung kolesterol, kadarnya cukup rendah dibandingkan dengan pangan hewani lainnya. Kadar kolesterol pada ikan tuna 38-45mg per 100gr daging.

Cegah Stroke dan Obesitas

Kandungan gizi yang tinggi membuat tuna sangat efektif untuk menyembuhkan berbagai penyakit, salah satunya stroke. Sebuah studi yang pernah dilakukan selama 15 tahun menunjukkan bahwa konsumsi ikan tuna 2-4 kali setiap minggu, dapat mereduksi 27% resiko penyakit sroke daripada yang hanya mengkonsumsi 1 kali dalam sebulan. Konsumsi 5 kali atau lebih dalam setiap minggunya dapat mereduksi penyakit stroke hingga 52 persen. Konsumsi tuna 13 kali per bulan dapat mengurangi risiko tubuh dari ischemic stroke, yaitu stroke yang disebabkan oleh kurangnya aliran darah ke otak.

Dari delapan penelitian yang tercatat dalam The George Mateljan Foundation (2006), konsumsi tuna 1-3 kali per bulan dapat mengurangi risiko ischemic stroke sebesar 9 persen. Selanjutnya risiko menurun sebanyak 13 persen pada konsumsi tuna sekali seminggu, 18 persen pada konsumsi 2-4 kali per minggu, serta 31 persen pada konsumsi tuna 5 kali atau lebih setiap minggunya. Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada 6th Congress of The International Society for the Study of Fatty Acids and Lipid pada Desember 2004 membuktikan bahwa ikan tuna dapat mencegah obesitas dan sangat baik untuk penderita diabetes melitus tipe 2. Hal itu disebabkan kandungan EPA (eicosapentaenoic acid) yang tinggi pada ikan tuna dapat menstimulasi hormon leptin, yaitu sebuah hormon yang membantu meregulasi asupan makanan. Dengan regulasi tersebut, tubuh akan terhindar dari konsumsi makanan secara berlebihan, penyebab obesitas.

Ikan tuna dengan omega-3nya yang tinggi sangat bermanfaat menjaga fungsi jantung. Omega-3 meningkatkan rasio konsentrasi HDL atau kolesterol baik dalam tubuh, menekan terjadinya pembekuan darah pada pembuluh darah, dan menjaga ritme detak jantung.

Mencegah Kanker

Suatu studi menemukan bahwa tuna berperan untuk mencegah kanker, antara lain kanker ovari, kanker pankreas, dan jenis kanker yang menyerang saluran pencernaan lain (kanker mulut, faring, esophagus, perut, dan usus). Kandungan omega-3 yang berlimpah pada tuna juga bermanfaat untuk mencegah kanker payudara dan menurunkan risiko terkena leukimia.

Ikan tuna juga baik untuk mencegah kanker payudara. Hal tersebut disebabkan kandungan omega-3 pada tuna dapat menghambat enzim proinflammatory yang disebut cyclooxygenase 2 (COX 2), enzim pendukung terjadinya kanker payudara. Omega-3 juga dapat mengaktifkan reseptor di membran sel yang disebut peroxisome proliferator-activated receptor (PPAR)-ã, yang bisa menangkap aktivitas sel penyebab kanker. Selain itu, omega-3 juga dapat memperbaiki DNA.

Meningkatkan fungsi kognitif otak

Omega-3 membantu meningkatkan fungsi mengingat atau fungsi kognitif otak, sehingga menghindarkan kita dari penyakit degenarasi fungsi otak seperti Alzheimer karena membantu memperlancar suplai darah ke otak. Omega-3 juga menurunkan risiko inflamasi, memperantarai signal agar dapat diterima oleh otak, pada orang yang menderita Alzhemeir akan mengalami gangguan dalam hal penyampaian signal atau impuls ke otak.

Meningkatkan response hormon Insulin

Tuna juga disarankan untuk dikonsumsi bagi mereka yang menderita diabetes tipe-2, karena kandungan lemak omega-3nya yang melimpah. Berbagai penelitian menyarankan, omega-3 pada ikan tuna –mencegah Anda dari kegemukan dan meningkatkan respon hormon insulin pada tubuh. Asam lemak omega 3 yang terkenal dengan nama EPA inilah yang membantu meregulasi berat badan dan juga metabolisme tubuh dengan mensekresi hormon leptin.

Membantu proses detoksifikasi

Selenium bersama dengan omega-3 yang terkandung dalam ikan tuna, merupakan bahan bakar penting untuk produksi gluthathione peroxidase –jenis antioksidan. Antioksidan inilah yang berfungsi penting untuk kesehatan hati –yang berperan untuk detoksifikasi. Selenium juga berperan untuk mencegah kanker dan penyakit jantung

Bagus untuk menurunkan berat badan

Karena kandungan protein yang tinggi, tuna meningkatkan metabolisme dan membantu membakar lemak tubuh, yang keduanya adalah aset tak ternilai untuk berat badan dan pemeliharaan.

Perlindungan terhadap DVT

Karena sifat anti-pembekuan, tuna dapat membantu mencegah timbulnya deep vein thrombosis (DVT). Ini adalah kondisi yang menyakitkan dan berpotensi serius, dimanifestasikan oleh pembengkakan di pembuluh darah dalam kaki dan panggul.

Anti-inflamasi

Karena sifat anti-inflamasi Omega 3 asam lemak, tuna dapat membantu meringankan gejala rematik dan kondisi peradangan kronis.

Sumber: http:
//kuliah-ikan.blogspot.com/2012/05/ikan-tuna.html
http://abonkenanga.multiply.com/journal/item/13/Manfaat-Ikan-Tuna?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem
http://esensi.co.id/health-a-beauty/healthy-living/654-manfaat-ikan-tuna-untuk-kesehatan-.html
http://www.ibudanbalita.com/diskusi/pertanyaan/32816/Manfaat-Ikan-Tuna

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...