Jumat, 14 Desember 2012

Red Fin Shark



Ikan Red-finned Shark (Ephalzeorhynchus frenatus) merupakan ikan dasar yang dapat ditemukan di sungai - sungai di sumatra ,kalimantan(indonesia) dan di sungai Mekong, Thailand. Ikan yang bersifat omnivora ini sangat cantik dengan warna tubuh cokelat hitam atau putih albino dan sirip-siripnya merah terang. Ukuran tubuh maksimal sekitar 12 cm. Suhu pemeliharaan antara 26-28° C dengan pH 7,5 dan kekerasan 10° dH.

Ikan ini sangat menghibur jika dipajang di aquarium karena ikan ini akan saling berkejaran menelusuri seluruh aquarium sehingga tidak terlalu membosankan Tidak seperti ikan atau hewan lainnya dimana jenis albino lebih sering difavoritkan, gw lebih suka Red Fin Shark "normal" karena perbedaan warna tubuh yang hitam sangat kontras dengan warna merah siripnya, itulah yang memberikan keindahan tersendiri.

Di alam aslinya, ikan dewasa senang, memakan lumut sehingga dinding akuarium biasanya bersih dari lumut. Sifatnya agak pemalu dan senang bersembunyi pada siang hari, sedangkan malam hari akan keluar mencari makanan.Ikan ini juga termasuk ikan yang usil terhadap sesama sehingga jika dipelihara di aquarium akan terlihat saling berkejaran ,namun jika dengan ikan yang lain jenis ikan ini cenderung pendamai ,sebaiknya jika akan memelihara ikan ini disarankan lebih dari 6 atau cukup 1 ekor saja,sebaiknya aquarium juga diset dengan banyak dekorasi untuk tempat persembunyian bagi ikan yang kalah.

PEMIJAHAN

Untuk pemijahan ikan ini masih sangat sulit ,karena pemijahan ikan ini belum bisa dikembang biakan secara alami atau dengan kawin suntik.Induk jantan dan betina agak sulit dibedakan. Namun, bentuk tubuh yang agak gemuk dan sedikit panjang biasanya adalah betina, sedangkan jantan agak pendek dan langsing

Pemijahannya dilakukan dengan suntikan hormon gonadotropin buatan seperti Ovaprim pada induk yang sudah matang telur. Dosis hormon cukup 0,3 ml/kg, berat badan.
Suntikan hanya dilakukan sekali saja. Oleh karena ukuran ikan ini tidak besar maka penyuntikan dapat dilakukan hanya dengan memegang induknya menggunakan tangan kiri, sedangkan tangan kanan untuk menyuntik.
Pemijahan dapat dilakukan secara masal. Induk-induk yang sudah bertelur harus secepatnya diambil dan telurnya dibiarkan menetas sendiri tanpa induk. Ikan ini berenang di dasar sehingga telurnya akan berantakan bila terlalu lama bersama induknya. Oleh karena itu, penyuntikan akan lebih baik dilakukan siang hari agar ikan bisa bertelur malam hari. Ini disebabkan waktu terbaik mengangkat induknya adalah malam hari. Misalnya, penyuntikan yang dilakukan pukul 11.00 diperkirakan ikan akan bertelur pukul 20.00.


Telur akan mulai menetas dalam jangka waktu 24 jam dan laivanya mulai berenang 3-4 hari kemudian. Pakan larva dapat berupa infusoria, kutu air halus, atau tetasan artemia yang berlangsung 36 jam. Pakan ikan dewasa berupa cacing sutera atau cacing darah. Ukuran jual sekitar 5 cm atau sudah berumur sekitar 4 bulan.

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...